Senin, 04 Juni 2012

RACER GP

Balap mobil
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Balap mobil (bahasa Inggris: auto racing) adalah suatu cabang olahraga yang melibatkan kendaraan. Balap mobil merupakan salah satu cabang olahraga tontonan yang paling diminati dan juga yang paling dikomersialisasi. Balap mobil pertama kali muncul pada tahun 1895, dan kini menjadi salah satu olahraga paling populer di dunia.

Untuk melangsungkan balap mobil diperlukan suatu tempat khusus. Pada umumnya tempat untuk balap mobil dinamakan sirkuit. Sirkuit membedakan jenis balap mobil apa yang akan digelar. Tiap sirkuit memiliki karakterisktik yang berbeda tergantung pembuatnya. Ketrampilan pembalap dalam mengemudikan mobil balap menjadi titik penentu keberhasilan untuk mencapai kemenangan.
Mobil

Mobil balap adalah mobil yang digunakan untuk balap. Mobil balap tidak sama karakteristiknya dengan mobil harian. Pada mobil balap banyak aspek yang telah berubah dari kondisi standar mobil. Penggunaan mobil balap mewajibkan pengendaranya memiliki keahlian tersendiri, karena dalam mengendarai mobil balap tidak sama dengan mengendarai mobil biasa. Jenis mobil balap di antaranya adalah mobil balap Formula 1, mobil balap NASCAR, mobil balap touring, mobil balap rally dan lain-lain. Setiap jenis mobil balap memiliki karakteristik yang berbeda.
Kelas-kelas dalam balap mobil
Seri formula
Seri balap turing
Seri mobil stock
Seri reli


MotoGP

Grand Prix Sepeda Motor
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Grand Prix Sepeda Motor mengacu pada kelas puncak dari balap motor, saat ini terbagi dalam tiga kelas mesin yang berbeda: 125 cc, Moto2 dan MotoGP (800 cc untuk musim 2007). Motor-motor yang digunakan di MotoGP adalah motor yang dibuat khusus untuk balapan dan tidak dijual untuk umum. Hal ini berlawanan dengan beberapa balapan kategori produksi, seperti World Superbike yang melombakan versi modifikasi dari motor-motor yang tersedia untuk umum.

Sejarah

Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. Pada saat itu secara tradisional telah diselenggarakan beberapa balapan di tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin, dan kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu adalah 50 cc, 125 cc, 250 cc, 350 cc, dan 500 cc untuk motor single seater, serta 350 cc dan 500 cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan sepanjang 1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada akhir 1960-an, motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil. Pada tahun 1970-an motor bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979, Honda berusaha mengembalikan mesin 4 tak di kelas puncak dengan menurunkan motor NR500, namun proyek ini gagal, dan pada tahun 1983 Honda bahkan meraih kemenangan dengan motor 500 cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350 cc akhirnya dihapuskan. Kelas 50 cc kemudian digantikan oleh kelas 80 cc pada tahun 1984, tetapi kelas yang sering didominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia ini akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari kejuaraan dunia pada tahun 1990-an, menyisakan kelas 125 cc, 250 cc, dan kelas 500 cc.

GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai 2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas mesin 500 cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990 cc, dan berubah menjadi 800 cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125 cc dan 250 cc secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.

Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15 negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka. Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start) terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
[sunting] Organisasi dalam MotoGP

Kesuksesan Balap MotoGP tidak terlepas dari organisasi-organisasi yang terlibat di dalamnya Beberapa organisasi yang tergabung dalam komisi Grand Prix antara lain FIM, Dorna, IRTA, dan MSMA.

FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari sebuah kejuaraan balap motor.

Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.

IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.

MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain yang tergabung di komisi Grand Prix.
[sunting] Karier Pembalap

Terdapat penjenjangan karier bagi para pembalap yang turun di balap motor dunia, apabila seorang pembalap cukup berprestasi ia akan direkrut oleh tim yang ada dikelas berikutnya dari kelas 125 cc, kelas 250 cc, kemudian kelas puncak MotoGP. Pembalap yang turun di kelas 125 cc sendiri berasal dari pembalap yang berprestasi di kejuaraan regional atau nasional di negaranya masing-masing, seperti All Japan road racing di Jepang, ataupun kejuaraan Eropa.

Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250 cc seperti Valentino Rossi,Marco Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards, Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor bermesin 4 tak 990 cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2 tak 500 cc yang boleh digunakan.
[sunting] Spesifikasi



Mesin YZR-M1 empat silinder (empat tak) di acara Tokyo Motor Show 2009.

Setiap peraturan mengenai tiap-tiap kelas balapan dibentuk oleh FIM sebagai organisasi yang berwenang melakukannya. FIM membentuk dan mengeluarkan peraturan-peraturan baru yang dipandang sesuai dengan perkembangan balapan. Pada permulaan era baru MotoGP pada tahun 2002, motor bermesin 2 tak 500 cc dan 4 tak 990 cc dibolehkan untuk digunakan dalam balapan. Kedahsyatan tenaga dari motor bermesin 4 tak yang mengungguli motor bermesin 2 tak menyingkirkan seluruh mesin 2 tak dari persaingan, dan musim-musim balap selanjutnya tidak ada lagi motor 2 tak yang digunakan.

Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800 cc. Alasan yang dikemukakan dari pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun 2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9 km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit Monza pada tahun 2004.

Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800 cc (daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800 cc juga menimbulkan kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam kejuaraan Superbike 1000 cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor sirkuit di seluruh dunia.

Mesin yang digunakan dalam kelas 125 cc dibatasi sebanyak satu silinder dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250 cc dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.

Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun 2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati, Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.

Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon, dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.

Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125 cc dan 250 cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125 cc kurang lebih sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.

Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari 950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor MotoGP.
[sunting] Spesifikasi mesin
Konfigurasi: 4-silinder (Kelas MotoGP dan Moto2), 1-silinder (Kelas 125 cc)
Kapasitas: 800 cc (Kelas MotoGP), 600 cc (kelas Moto 2), 125 cc (kelas 125 cc).
Katup: 16-katup (MotoGP dan Moto2),
Kerja katup: DOHC, 4-katup per silinder (MotoGP dan Moto2) .
Bahan bakar: Tanpa timbal (tidak ada bahan bakar kontrol), 100 oktan.
Pasokan bahan bakar: Injeksi bahan bakar.
Aspirasi: Aspirasi normal.
Kekuatan: Kira - kira 250 atau 225 dk.
Pelumasan: Basah.
Maksimum/minimum putaran mesin: 17500 - 18000 Rotasi per menit.
Pendingin: Pompa air tunggal.
[sunting] Perubahan regulasi terbaru
Pada tahun 2002, kelas 500 cc digantikan menjadi MotoGP, kapasitas motor yaitu 990 cc.
Pada tahun 2005, sebuah peraturan baru untuk MotoGP telah diberlakukan yaitu flag-to-flag. Sebelumnya, jika sebuah balapan dimulai dengan start dalam kondisi sirkuit kering dan hujan turun, pembalap terdepan dapat mengangkat tangan untuk menghentikan lomba, demikian juga dengan para ofisial mengibarkan bendera merah untuk menghentikan balapan, kemudian balapan dimulai lagi dengan menggunakan ban basah. Sekarang jika hujan turun saat balapan tidak ada lagi bendera merah, para pembalap langsung menuju pit untuk mengganti ban sesuai kebijakan tim.
Pada tahun 2007, kelas MotoGP diturunkan kapasitas mesinnya, menjadi 800 cc.
Pada tahun 2010, kelas MotoGP diberlakukan pembatasan mesin 6 mesin untuk 1 musim.
Pada tahun 2010, kelas 250 cc digantikan oleh kelas Moto2 dengan mesin Honda CBR600RR, sasis prototipe.
Pada tahun 2012, kelas MotoGP dinaikkan kapasitas mesinnya, menjadi 1.000 cc.
Pada tahun 2012, kelas MotoGP diberlakukan regulasi CRT (Claiming Rule Team) yang memperbolehkan Tim (Kecuali Team Pabrikan) memakai mesin motor massal 1.000 cc disasis prototipe.
Pada tahun 2012, kelas 125cc digantikan oleh kelas Moto3 dengan mesin 250cc.

Stadion terbesar di dunia

Stadion Terbesar di Dunia, Stadion Olahraga. Setiap Negara di Dunia pasti memiliki stadion olahraga yang biasa digunakan untuk pertandingan maupun hanya sebagai latihan saja. Stadion olahraga tersebut mungkin ada yang berukuran sedang-sedang saja dan ada juga yang sangat besar yang bisa menampung banyak pengunjung/penonton untuk menyaksikan tim favoritnya sedang bertanding di lapangan. Kali ini info-mini akan share tentang 5 stadion olahraga terbesar di dunia yang saya dapatkan dari forum. Berikut kelima stadionnya :

1. May Day Stadium, Pyongyang
Kapasitas 150.000 orang


Stadion Rungrado, atau Stadion Hari Buruh, adalah stadion multi-fungsi di Pyongyang, Korea Utara. Stadion ini dibangun pada tahun 1989, guna keperluan pertandingan sepak bola, atletik, tapi paling sering untuk Festival Arirang (juga dikenal sebagai Mass Games). Stadion ini memiliki 150.000 kursi, yang merupakan stadion non-balap mobil berkapasitas terbesar di dunia.

Nama stadion ini diambil dari nama Pulau Rungra yang terletak di Sungai Taedong, tempat stadion ini berasal, dan May Day merupakan perayaan hari buruh internasional, yang kerap dirayakan di kalangan komunis. Atapnya yang bergelombang memiliki 16 lengkungan yang diatur seperti sebuah cincin, yang menyerupai parasut atau kembang magnolia. Sementara stadion digunakan untuk kegiatan – kegiatan olahraga, stadion ini sangat dikenal sebagai tempat pertunjukkan dan penampilan besar dalam rangka memperingati Kim Il-sung dan negara Korea Utara. Penampilan tersebut kini menjadi acara tahunan di Pyongyang yang digelar antara bulan Agustus hingga September. Buku Rekor Guinness mencatat acara ini sebagai yang terbesar di dunia. Pada tahun 2004, sejumlah jenderal angkatan darat Korea Utara yang terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap Kim Jong-il dieksekusi di stadion ini, dengan cara dibakar hidup-hidup.

2. Salt Lake Stadium, Kolkata
Kapasitas 120.000 orang


Yuva Bharati Krirangan atau dikenal dengan Salt Lake Stadium adalah stadion terbesar kedua di dunia dan terbesar di India. Stadion ini digunakan untuk pertandingan sepak bola dan atletik. Salt Lake Stadium dresmikan pada tahun 1984 dan berkapasitas penonton mencapai 120.000 orang dalam konfigurasi tiga-lapis. Terletak sekitar 10 km ke arah timur dari pusat kota Kolkata dan berbentuk elips. Atapnya terbuat dari pipa logam dan lembaran aluminium dan beton. Ada dua papan skor elektronik dan ruang kontrol. Pencahayaan merata untuk memfasilitasi olahraga malam hari. Stadion ini meliputi area seluas 76,40 hektar (309.200 m2).

3. Michigan Stadium, Michiga
Kapasitas 109.901 orang


Stadion Michigan, dijuluki “The Big House”, merupakan stadion sepak bola milik University of Michigan di Ann Arbor, Michigan. Stadion Michigan dibangun pada tahun 1927 dengan biaya $ 950.000 dan memiliki kapasitas asli 72.000. Stadion Michigan juga adalah stadion terbesar di Amerika Serikat dengan kapasitas resmi 109.901.

4. Beaver Stadium, Pennsylvania
Kapasitas 107.283 orang


Stadion Beaver adalah stadion sepak bola outdoor di kampus University Park, Pennsylvania, di kampus The Pennsylvania State University. Stadion ini dinamai berdasarkan James A. Beaver, mantan gubernur Pennsylvania (1887-1891) dan presiden dewan penyantun universitas. Stadion Beaver memiliki kapasitas tempat duduk resmi 107.282, sehingga menjadikan stadion ini kedua terbesar di belahan bumi Barat dan terbesar keempat di dunia.

5. Estadio Azteca, Mexico City
Kapasitas 105.000 orang


Stadion Azteca merupakan sebuah stadion sepak bola yang terletak di Mexico City, Meksiko. Stadion ini pernah dipakai untuk babak final Piala Dunia FIFA 1970 dan Piala Dunia FIFA 1986. Stadion ini merupakan stadion sepak bola terbesar di Meksiko dan berkapasitas 105.000 kursi. Klub sepak bola yang bermain di stadion ini ialah América dan merupakan markas utama untuk tim nasional Meksiko.

Link Sumber : http://info-mini.blogspot.com/2012/04/stadion-olahraga-terbesar-di-dunia.html#ixzz1wseiasxR

Sabtu, 02 Juni 2012

Pencak silat


Pencak silat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pencak silat atau silat adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Nusantara. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand selatan sesuai dengan penyebaran suku bangsa Melayu Nusantara. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, kini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh. Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Organisasi yang mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara adalah Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa (Persilat), yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pencak silat adalah olahraga bela diri yang memerlukan banyak konsentrasi.[1]Ada pengaruh budaya Cina, agama Hindu, Budha, dan Islam dalam pencak silat.[1] Biasanya setiap daerah di Indonesia mempunyai aliran pencak silat yang khas. Misalnya, daerah Jawa Barat terkenal dengan aliran Cimande dan Cikalong, di Jawa Tengah ada aliran Merpati Putih dan di Jawa Timur ada aliran Perisai Diri.[1] Setiap empat tahun di Indonesia ada pertandingan pencak silat tingkat nasional dalam Pekan Olahraga Nasional. Pencak silat juga dipertandingkan dalam SEA Games sejak tahun 1987. Di luar Indonesia juga ada banyak penggemar pencak silat seperti di Australia, Belanda, Jerman, dan Amerika.[1]

Di tingkat nasional olahraga melalui permainan dan olahraga pencak silat menjadi salah satu alat pemersatu nusantara, bahkan untuk mengharumkan nama bangsa, dan menjadi identitas bangsa.[2] Olahraga pencak silat sudah dipertandingkan di skala internasional.[2] Di Indonesia banyak sekali aliran-aliran dalam pencak silat, dengan banyaknya aliran ini menunjukkan kekayaan budaya masyarakat yang ada di Indonesia dengan nilai-nilai yang ada didalamnya.
Etimologi

Istilah silat dikenal secara luas di Asia Tenggara, akan tetapi khusus di Indonesia istilah yang digunakan adalah pencak silat. Istilah ini digunakan sejak 1948 untuk mempersatukan berbagai aliran seni bela diri tradisional yang berkembang di Indonesia.[3] Nama "pencak" digunakan di Jawa, sedangkan "silat" digunakan di Sumatera, Semenanjung Malaya dan Kalimantan. Dalam perkembangannya kini istilah "pencak" lebih mengedepankan unsur seni dan penampilan keindahan gerakan, sedangkan "silat" adalah inti ajaran bela diri dalam pertarungan.
Sejarah



Bela diri yang berkembang di Nusantara didasarkan pada upaya pertahanan suku menghadapi musuh, seperti tari perang Nias.

Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam.[4] Mereka menciptakan bela diri dengan menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitarnya, seperti gerakan kera, harimau, ular, atau burung elang.[4] Asal mula ilmu bela diri di nusantara ini kemungkinan juga berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak, misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.

Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat ditentukan secara pasti. Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya dan Majapahit disebutkan memiliki pendekar-pendekar besar yang menguasai ilmu bela diri dan dapat menghimpun prajurit-prajurit yang kemahirannya dalam pembelaan diri dapat diandalkan.[4] Peneliti silat Donald F. Draeger berpendapat bahwa bukti adanya seni bela diri bisa dilihat dari berbagai artefak senjata yang ditemukan dari masa klasik (Hindu-Budha) serta pada pahatan relief-relief yang berisikan sikap-sikap kuda-kuda silat di candi Prambanan dan Borobudur. Dalam bukunya, Draeger menuliskan bahwa senjata dan seni beladiri silat adalah tak terpisahkan, bukan hanya dalam olah tubuh saja, melainkan juga pada hubungan spiritual yang terkait erat dengan kebudayaan Indonesia. Sementara itu Sheikh Shamsuddin (2005)[5] berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu bela diri dari Cina dan India dalam silat. Hal ini karena sejak awal kebudayaan Melayu telah mendapat pengaruh dari kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, dan mancanegara lainnya.

Pencak silat telah dikenal oleh sebagian besar masyarakat rumpun Melayu dalam berbagai nama.[6] Di semenanjung Malaysia dan Singapura, silat lebih dikenal dengan nama alirannya yaitu gayong dan cekak.[6] Di Thailand, pencak silat dikenal dengan nama bersilat, dan di Filipina selatan dikenal dengan nama pasilat.[6] Dari namanya, dapat diketahui bahwa istilah "silat" paling banyak menyebar luas, sehingga diduga bahwa bela diri ini menyebar dari Sumatera ke berbagai kawasan di rantau Asia Tenggara.[6]



Silek (silat) Minangkabau memperagakan cara melumpuhkan musuh yang menggunakan keris.

Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Legenda Minangkabau, silat (bahasa Minangkabau: silek) diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan, Tanah Datar di kaki Gunung Marapi pada abad ke-11.[7] Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara. Demikian pula cerita rakyat mengenai asal mula silat aliran Cimande, yang mengisahkan seorang perempuan yang mencontoh gerakan pertarungan antara harimau dan monyet. Setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan (pendekar) yang dibanggakan, misalnya Prabu Siliwangi sebagai tokoh pencak silat Sunda Pajajaran,[8] Hang Tuah panglima Malaka,[9] Gajah Mada mahapatih Majapahit[rujukan?] dan Si Pitung dari Betawi.[rujukan?]

Perkembangan silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum penyebar agama Islam pada abad ke-14 di nusantara. Kala itu pencak silat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren. Silat menjadi bagian dari latihan spiritual. [5] Dalam budaya beberapa suku bangsa di Indonesia, pencak silat merupakan bagian tak terpisahkan dalam upacara adatnya. Misalnya kesenian tari Randai yang tak lain adalah gerakan silek Minangkabau kerap ditampilkan dalam berbagai perhelatan dan acara adat Minangkabau. Dalam prosesi pernikahan adat Betawi terdapat tradisi "palang pintu", yaitu peragaan silat Betawi yang dikemas dalam sebuah sandiwara kecil. Acara ini biasanya digelar sebelum akad nikah, yaitu sebuah drama kecil yang menceritakan rombongan pengantin pria dalam perjalanannya menuju rumah pengantin wanita dihadang oleh jawara (pendekar) kampung setempat yang dikisahkan juga menaruh hati kepada pengantin wanita. Maka terjadilah pertarungan silat di tengah jalan antara jawara-jawara penghadang dengan pendekar-pendekar pengiring pengantin pria yang tentu saja dimenangkan oleh para pengawal pengantin pria.

Silat lalu berkembang dari ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah asing.[9] Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, tercatat para pendekar yang mengangkat senjata, seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta para pendekar wanita, seperti Sabai Nan Aluih, Cut Nyak Dhien, dan Cut Nyak Meutia.[4]

Silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,[10] yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lain-lainnya yang juga mengembangkan beladiri ini.

Menyadari pentingnya mengembangkan peranan pencak silat maka dirasa perlu adanya organisasi pencak silat yang bersifat nasional, yang dapat pula mengikat aliran-aliran pencak silat di seluruh Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 1948, terbentuklah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)[4] Kini IPSI tercatat sebagai organisasi silat nasional tertua di dunia.

Pada 11 Maret 1980, Persatuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) didirikan atas prakarsa Eddie M. Nalapraya (Indonesia), yang saat itu menjabat ketua IPSI.[6] Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.[6] Keempat negara itu termasuk Indonesia, ditetapkan sebagai pendiri Persilat.[6]

Beberapa organisasi silat nasional antara lain adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei. Telah tumbuh pula puluhan perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa. Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olah raga dalam pertandingan internasional, khususnya dipertandingkan dalam SEA Games.
Istilah dalam Pencak Silat



Silat Betawi saat acara "Palang Pintu" dalam tradisi pernikahan Betawi, tengah memperagakan teknik kuncian melucuti golok.
Kuda-kuda: adalah posisi menapak kaki untuk memperkokoh posisi tubuh. Kuda-kuda yang kuat dan kokoh penting untuk mempertahankan posisi tubuh agar tidak mudah dijatuhkan. Kuda-kuda juga penting untuk menahan dorongan atau menjadi dasar titik tolak serangan (tendangan atau pukulan).
Sikap dan Gerak: Pencak silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat.
Langkah: Ciri khas dari Silat adalah penggunaan langkah. Langkah ini penting di dalam permainan silat yang baik dan benar. Ada beberapa pola langkah yang dikenali, contohnya langkah tiga dan langkah empat.
Kembangan: adalah gerakan tangan dan sikap tubuh yang dilakukan sambil memperhatikan, mewaspadai gerak-gerik musuh, sekaligus mengintai celah pertahanan musuh. Kembangan utama biasanya dilakukan pada awal laga dan dapat bersifat mengantisipasi serangan atau mengelabui musuh. Seringkali gerakan kembangan silat menyerupai tarian atau dalam maenpo Sunda menyerupai ngibing (berjoget). Kembangan adalah salah satu bagian penilaian utama dalam seni pencak silat yang mengutamakan keindahan gerakan.
Buah: Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Secara tradisional istilah teknik ini dapat disamakan dengan buah. Pesilat biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi, dan lain-lain.
Jurus: pesilat berlatih dengan jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan teknik-teknik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh.
Sapuan dan Guntingan: adalah salah satu jenis buah (teknik) menjatuhkan musuh dengan menyerang kuda-kuda musuh, yakni menendang dengan menyapu atau menjepit (menggunting) kaki musuh, sehingga musuh kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Kuncian: adalah teknik untuk melumpuhkan lawan agar tidak berdaya, tidak dapat bergerak, atau untuk melucuti senjata musuh. Kuncian melibatkan gerakan menghindar, tipuan, dan gerakan cepat yang biasanya mengincar pergelangan tangan, lengan, leher, dagu, atau bahu musuh.
Aspek dan bentuk



Kesenian Randai dari Sumatera Barat memakai silek (silat) sebagai unsur tariannya.

Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:
Aspek Mental Spiritual: Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan "seni" pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.

Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa.

Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia.
Senjata

Selain bertarung dengan tangan kosong, pencak silat juga mengenal berbagai macam senjata. antara lain:
Keris: sebuah senjata tikam berbentuk pisau kecil, sering dengan bilah bergelombang yang dibuat dengan melipat berbagai jenis logam bersama-sama dan kemudian cuci dalam asam.
Kujang: pisau khas Sunda
Samping/Linso: selendang kain sutera dipakai sekitar pinggang atau bahu, yang digunakan dalam penguncian teknik dan untuk pertahanan terhadap pisau.
Galah: tongkat yang terbuat dari kayu, baja atau bambu .
Cindai: kain, biasanya dipakai sebagai sarung atau dibungkus sebagai kepala gigi. Tradisional perempuan menutupi kepala mereka dengan kain yang dapat diubah menjadi cindai.
Tongkat/Toya: tongkat berjalan yang dibawa oleh orang tua, pengelana dan musafir.
Kipas: kipas lipat tradisional yang kerangkanya dapat terbuat dari kayu atau besi.
Kerambit/Kuku Machan: sebuah pisau berbentuk seperti cakar harimau yang bisa diselipkan di rambut perempuan.
Sabit/Clurit: sebuah sabit, biasa digunakan dalam pertanian, budidaya dan panen tanaman.
Sundang: sebuah ujung pedang ganda Bugis, sering berombak-berbilah
Rencong: belati Aceh yang sedikit melengkung
Tumbuk Lada: belati kecil yang juga sedikit melengkung mirip rencong, secara harfiah berarti "penghancur lada".
Gada: senjata tumpul yang terbuat dari baja.
Tombak: lembing yang terbuat dari bambu, baja atau kayu yang kadang-kadang memiliki bulu yang menempel di dekat pisau.
Parang/Golok: pedang pendek yang biasa digunakan dalam tugas sehari-hari seperti memotong saat menyisir hutan.
Trisula: tiga sula atau senjata bercabang tiga
Chabang/Cabang: trisula bergagang pendek, secara harfiah berarti "cabang".
Tingkat kemahiran

Secara ringkas, murid silat atau pesilat dibagi menjadi beberapa tahap atau tingkat kemahiran, yaitu:
Pemula, diajari semua yang tahap dasar seperti kuda-kuda,teknik tendangan, pukulan, tangkisan, elakan,tangkapan, bantingan, olah tubuh, maupun rangkaian jurus dasar perguruan dan jurus standar IPSI
Menengah, ditahap ini, pesilat lebih difokuskan pada aplikasi semua gerakan dasar, pemahaman, variasi, dan disini akan mulai terlihat minat dan bakat pesilat, dan akan disalurkan kepada masing-masing cabang, misalnya Olahraga & Seni Budaya.
Pelatih, hasil dari kemampuan yang matang berdasarkan pengalaman di tahap pemula, dan menengah akan membuat pesilat melangkah ke tahap selanjutnya, dimana mereka akan diberikan teknik - teknik beladiri perguruan, dimana teknik ini hanya diberikan kepada orang yang memang dipercaya, dan mampu secara teknik maupun moral, karena biasanya teknik beladiri merupakan teknik tempur yang sangat efektif dalam melumpuhkan lawan / sangat mematikan .
Pendekar, merupakan pesilat yang telah diakui oleh para sesepuh perguruan, mereka akan mewarisi ilmu-ilmu rahasia tingkat tinggi.
Tata tertib pencak silat

Sejalan dengan norma dan nilai budaya khususnya di Indonesia, terdapat beberapa peraturan yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan seksama ketika berlatih pencak silat, di antaranya sebagai berikut.[6]
Upacara pembukaan latihan yang terdiri atas:
Menyiapkan barisan;
Berdoa dipimpin oleh pelatih;
Pembacaan "prasetya pesilat Indonesia"
Penghormatan kepada pelatih, dipimpin oleh pemimpin barisan.
Pemanasan
Latihan inti
Pendinginan
Upacara penutupan latihan diakhiri dengan penghormatan dan berjabat tangan.
Nilai positif pencak silat

Beberapa nilai positif yang diperoleh dalam olahraga beladiri pencak silat adalah:[2]
Kesehatan dan kebugaran;
Membangkitkan rasa percaya diri;
Melatih ketahanan mental;
Mengembangkan kewaspadaan diri yang tinggi;
Membina sportifitas dan jiwa ksatria;
Disiplin dan keuletan yang lebih tinggi.
Pencak silat di dunia



Pesilat Vietnam memperagakan permainan golok.

Pencak Silat telah berkembang pesat selama abad ke-20 dan telah menjadi olah raga kompetisi di bawah penguasaan dan peraturan Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa, atau The International Pencak Silat Federation). Pencak silat sedang dipromosikan oleh Persilat di beberapa negara di seluruh 5 benua, dengan tujuan membuat pencak silat menjadi olahraga Olimpiade. Persilat mempromosikan Pencak Silat sebagai kompetisi olah raga internasional. Hanya anggota yang diakui Persilat yang diizinkan berpartisipasi pada kompetisi internasional.

Kini, beberapa federasi pencak silat nasional Eropa bersama dengan Persilat telah mendirikan Federasi Pencak Silat Eropa. Pada 1986 Kejuaraan Dunia Pencak Silat pertama di luar Asia, mengambil tempat di Wina, Austria.

Pencak silat pertama kali diperkenalkan dan dipertandingan dalam Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) ke-14 tahun 1987 di Jakarta. Hingga kini cabang olahraga pencak silat rutin dipertandingkan dalam SEA Games. Pada tahun 2002 Pencak Silat diperkenalkan sebagai bagian program pertunjukan di Asian Games di Busan, Korea Selatan untuk pertama kalinya. Kejuaraan Dunia terakhir ialah pada 2010 mengambil tempat di Jakarta, Indonesia pada Desember 2010.

Selain dari upaya Persilat yang membuat pencak silat sebagai pertandingan olahraga, masih ada banyak aliran-aliran tua tradisional yang mengembangkan pencak silat dengan nama Silek dan Silat di berbagai belahan dunia. Diperkirakan ada ratusan aliran (gaya) dan ribuan perguruan.
Padepokan pencak silat Indonesia



Pintu Gerbang Padepokan Pencak Silat



Gelanggang utama Padepokan Pencak Silat

Padepokan adalah istilah Jawa yang berarti sebuah kompleks perumahan dengan areal cukup luas yang disediakan untuk belajar dan mengajar pengetahuan dan keterampilan tertentu. Padepokan yang disediakan untuk belajar dan mengajar Pencak Silat dinamakan Padepokan Pencak Silat. Di Minangkabau, Sumatera Barat, tempat belajar silat dinamakan sasaran silek yang biasanya hampir dimiliki oleh setiap nagari pada masa dahulunya.

Padepokan Pencak Silat Indonesia (PnPSI).[11] adalah padepokan berskala nasional dan internasional yang berlokasi diatas lahan yang luasnya sekitar 5,2 hektar di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Luas total bangunannya sekitar 8.700 m2 dan luas total selasar-selasarnya sekitar 5.000 m2. Padepokan ini secara resmi dibuka oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1997.

Padepokan Pencak Silat Indonesia mempunyai sekurang-kurangnya 5 fungsi, yakni :
Sebagai pusat informasi, pendidikan, penyajian dan promosi berbagai hal yang menyangkut Pencak Silat.
Sebagai pusat berbagai kegiatan yang berhubungan dengan upaya pelestarian, pengembangan, penyebaran dan peningkatan citra Pencak Silat dan nilai-nilainya.
Sebagai sarana untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan masyarakat Pencak Silat Indonesia.
Sebagai sarana untuk mempererat persahabatan di antara masyarakat Pencak Silat di berbagai negara.
Sebagai sarana untuk memasyarakatkan 2 kode etik manusia Pencak Silat, yakni : Prasetya Pesilat Indonesia dan Ikrar Pesilat.
Aliran dan perguruan di Indonesia

Terdapat beraneka ragam aliran pencak silat yang berkembang di Indonesia selama berabad-abad, dan tiap aliran ini bercabang-cabang lagi menjadi banyak perguruan. Beberapa tradisi atau aliran utama yang tertua dan termahsyur antara lain Silek Tuo Minangkabau dari Sumatera Barat, Maenpo Cimande dan Cikalong dari Jawa Barat, serta beberapa aliran pencak silat tua di Jawa Tengah dan Bali. Perguruan dan padepokan pencak silat yang berkembang kemudian mungkin saja dipengaruhi beberapa aliran tradisi pencak silat tua ini, serta memadukannya dengan disiplin dan teknik laga beladiri lain. Berikut ini adalah beberapa aliran dan perguruan pencak silat:
Silek Harimau Minangkabau — adalah aliran silek (silat Minangkabau), seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki budaya merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang. Disamping sebagai bekal untuk merantau, silek penting untuk pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar.[12]
Cimande — adalah aliran maenpo (pencak silat Sunda) di daerah Tari Kolot, Cimande, Bogor, Jawa Barat. Cimande adalah sebuah aliran pencak silat yang tergolong tua, besar, terkenal dan memiliki pengaruh pada aliran lainnya di pulau Jawa.[13] Cimande memiliki lima aspek yaitu aspek olahraga, seni budaya/tradisi, beladiri, spiritual dan pengobatan. Aspek terakhir yaitu pengobatan termasuk pijat/ atau urut gaya Cimande dan pengobatan patah tulang.
Merpati Putih — merupakan pencak silat yang berkembang dari tradisi Jawa sejak tahun 1550. Sang Guru Merpati Putih adalah Bapak Saring Hadi Poernomo, sedangkan pendiri Perguruan dan Guru Besar sekaligus pewaris ilmu adalah Purwoto Hadi Purnomo (Mas Poeng) dan Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi) sebagai Guru Besar terakhir yaitu generasi ke sebelas. Didirikan pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, mempunyai kurang lebih 85 cabang dalam negeri dan 4 cabang luar negeri dengan jumlah kelompok latihan sebanyak 415 buah (1993) yang tersebar di seluruh Nusantara dan saat ini mempunyai anggota sebanyak kurang lebih dua setengah juta orang lulusan serta yang masih aktif sekitar 100 ribu orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Pencak silat Merpati Putih dikenal dengan Beladiri Tangan Kosong (Betako).
Bakti Negara — adalah aliran dan perguruan pencak silat Bali yang berpedoman pada ajaran Hindu Dharma masyarakat Bali Tri Hita Karana. Bakti Negara dibentuk pada 31 Januari 1955 di Banjar Kaliungu Kaja, Denpasar, Bali oleh empat pendekar mantan pejuang kemerdekaan Indonesia: pendekar Anak Agung Rai Tokir, I Bagus Made Rai Keplag, Anak Agung Meranggi, Sri Empu Dwi Tantra, dan Ida Bagus Oka Dewangkara.[14]
Perguruan Silat Nasional Asad (Persinas ASAD) — berdiri pada tanggal 30 April 1993 berpusat di Jakarta, telah berkembang pesat dan banyak menjuarai perlombaan baik provinsi, nasional, bahkan internasional. Prestasi Dunia Persinas Asad yang mewakili Indonesia meraih prestasi membanggakan di Festival Beladiri Dunia Chungju World Martial Arts Festival di Chungju Korea Selatan.
Himpunan Anggota Silat Dasar Indonesia (HASDI) — didirikan oleh Bapak RS. Hasdijatmiko pada tahun 1961, yang berpusat di Jember Jawa Timur, merupakan perguruan silat yang mengembangkan tekhnik gerak silat cepat dan lugas.
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)[15] — didirikan oleh Ki Hajar Harjo Utomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Madiun pada tahun 1922, merupakan perguruan silat yang mengajarkan kesetiaan pada hati sanubari sendiri yang bersandarkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Perguruan ini mengutamakan persaudaraan dan berbentuk sebuah organisasi.
Silat Perisai Diri[16] — teknik silat Indonesia yang diciptakan oleh Pak Dirdjo (mendapat penghargaan pemerintah sebagai Pendekar Purna Utama) yang pernah mempelajari lebih dari 150 aliran silat nusantara dan mempelajari aliran kungfu siauw liem sie (shaolin) selama 13 tahun. Teknik praktis dan efektif berdasar pada elakan yang sulit ditangkap dan serangan perlawanan kekuatan maksimum. Saat ini merupakan silat yang paling dikenal dan banyak anggotanya di Australia, Eropa, Jepang dan Amerika Serikat.
Silat Riksa Budi Kiwari — Perguruan ini didirikan oleh Pak Ujang Jayadiman pada tahun 1982 di Bandung. Meskipun usia perguruan ini tergolong masih muda,namun telah mencetak banyak atlet-atlet berprestasi baik di tingkat Nasional maupun Internasional.
Silat Tunggal Hati Seminari- Tunggal Hati Maria —organisasi pencak silat bernafaskan agama Katolik, didirikan oleh 7 dewan pendiri, termasuk Rm. Hadi,Pr. dan Rm. Sandharma Akbar,Pr.
Pencak Silat Siwah — aliran silat asli yang berasal dari daerah Aceh yang memadukan empat aliran asli Aceh yaitu dari Peureulak dan Aceh Besar (Keudee Bing - Lhok Nga)
Organisasi pencak silat
PERSILAT- Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa
IPSI - Ikatan Pencak Silat Indonesia
FP2STI - Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia
PESAKA Malaysia - Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia
PERSISI - Persekutuan Silat Singapore
EPSF - European Pencak Silat Federation

Renang (olahraga)


Renang (olahraga)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Renang adalah olahraga yang melombakan kecepatan atlet renang dalam berenang. Gaya renang yang diperlombakan adalah gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan gaya dada. Perenang yang memenangkan lomba renang adalah perenang yang menyelesaikan jarak lintasan tercepat. Pemenang babak penyisihan maju ke babak semifinal, dan pemenang semifinal maju ke babak final.

Bersama-sama dengan loncat indah, renang indah, renang perairan terbuka, dan polo air, peraturan perlombaan renang ditetapkan oleh badan dunia bernama Federasi Renang Internasional (FINA). Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) adalah induk organisasi cabang olahraga renang di Indonesia.
Sejarah



Renang 100 yard di Olimpiade St. Louis 1904.
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah renang

Perlombaan berenang dimulai di Eropa sekitar tahun 1800. Sebagian besar perenang berenang dengan memakai gaya dada. Pada 1873, John Arthur Trudgen memperkenalkan gaya trudgen di lomba-romba renang setelah meniru renang gaya bebas suku Indian. Akibat ketidaksukaan orang Inggris terhadap gerakan renang yang memercikkan air ke sana ke mari, Trudgen mengganti gerakan kaki gaya bebas yang melecut ke atas dan ke bawah menjadi gerakan kaki gunting seperti renang gaya samping.

Renang menjadi salah satu cabang olahraga yang dilombakan sejak Olimpiade Athena 1896. Nomor renang putri dilombakan sejak Olimpiade Stockholm 1912. Pada 1902, Richard Cavill memperkenalkan renang gaya bebas. Federasi Renang Internasional dibentuk pada 1908. Gaya kupu-kupu pertama kali dikembangkan pada tahun 1930-an. Pada awalnya, gaya kupu-kupu merupakan variasi gaya dada sebelum dianggap sebagai gaya renang tersendiri pada 1952.

Di Hindia Belanda, Perserikatan Berenang Bandung (Bandungse Zwembond) didirikan pada 1917. Pada tahun berikutnya didirikan Perserikatan Berenang Jawa Barat (West Java Zwembond), dan Perserikatan Berenang Jawa Timur (Oost Java Zwembond) didirikan pada 1927. Sejak itu pula perlombaan renang antardaerah mulai sering diadakan. Rekor dalam kejuaraan-kejuaraan tersebut juga dicatatkan sebagai rekor di Belanda.[1]

Pada 1936, perenang Hindia Belanda bernama Pet Stam mencatat rekor 59,9 detik untuk nomor 100 meter gaya bebas di kolam renang Cihampelas Bandung. Pet Stam dikirim sebagai wakil Belanda di Olimpiade Berlin 1936. Persatuan Berenang Seluruh Indonesia didirikan 21 Maret 1951, dan sebagai anggota Federasi Renang Internasional sejak tahun berikutnya. Perenang Indonesia ikut berlomba dalam Olimpiade Helsinki 1952.[1]
Fasilitas dan peralatan
Kolam renang
Artikel utama untuk bagian ini adalah: kolam renang ukuran Olimpiade

Panjang kolam renang lintasan panjang adalah 50 m sementara lintasan pendek adalah 25 m. Dalam spesifikasi Federasi Renang Internasional untuk kolam ukuran Olimpiade ditetapkan panjang kolam 50 m dan lebar kolam 25 m. Kedalaman kolam minimum 1,35 meter, dimulai dari 1,0 m pertama lintasan hingga paling sedikit 6,0 m dihitung dari dinding kolam yang dilengkapi balok start. Kedalaman minimum di bagian lainnya adalah 1,0 m.[2]
Lintasan

Lebar lintasan paling sedikit 2,5 m dengan jarak paling sedikit 0,2 m di luar lintasan pertama dan lintasan terakhir.[2] Masing-masing lintasan dipisahkan dengan tali lintasan yang sama panjang dengan panjang lintasan.

Tali lintasan terdiri dari rangkaian pelampung berukuran kecil pada seutas tali yang panjangnya sama dengan panjang lintasan. Pelampung pada tali lintasan dapat berputar-putar bila terkena gelombang air. Tali lintasan dibedakan menurut warna: hijau untuk lintasan 1 dan 8, biru untuk lintasan 2, 3, 6, dan 7, dan kuning untuk lintasan 4 dan 5.[2]

Perenang diletakkan di lintasan berdasarkan catatan waktu dalam babak penyisihan (heat). Di kolam berlintasan ganjil, perenang tercepat diunggulkan di lintasan paling tengah. Di kolam 8 lintasan, perenang tercepat ditempatkan di lintasan 4 (di lintasan 3 untuk kolam 6 lintasan).[3] Perenang-perenang dengan catatan waktu di bawahnya secara berurutan menempati lintasan 5, 3, 6, 2, 7, 1, dan 8.
Pengukur waktu

Dalam perlombaan internasional atau perlombaan yang penting, papan sentuh pengukur waktu otomatis dipasang di kedua sisi dinding kolam. Tebal papan sentuh ini hanya 1 cm.[4]

Perenang mencatatkan waktunya di papan sentuh sewaktu pembalikan dan finis. Papan sentuh pengukur waktu produksi Omega mulai dipakai di Pan-American Games 1967 di Winnipeg, Kanada.[5]
Balok start

Di setiap balok start terdapat pengeras suara untuk menyuarakan tembakan pistol start dan sensor pengukur waktu yang memulai catatan waktu ketika perenang meloncat dari balok start.

Tinggi balok start antara 0,5 m hingga 0,75 dari permukaan air. Ukuran balok start adalah 0,5 x 0,5 m, dan di atasnya dilapisi bahan antilicin. Kemiringan balok start tidak melebihi 10°.[2]
Peraturan perlombaan dalam renang

Pada nomor renang gaya kupu-kupu, gaya dada, dan gaya bebas, perenang melakukan posisi start di atas balok start. Badan dibungkukkan ke arah air dengan lutut sedikit ditekuk.

Pada nomor gaya punggung, posisi start dilakukan di dalam air dengan badan menghadap ke dinding kolam. Kedua tangan memegang pegangan besi pada balok start, sementara kaki bertumpu di dinding kolam, dan kedua lutut ditekuk di antara kedua lengan. Posisi start gaya punggung juga dipakai oleh perenang pertama dalam gaya ganti estafet.

Wasit start memanggil para perenang dengan tiupan peluit panjang untuk naik ke atas balok start (bersiap di dalam air untuk gaya punggung dan gaya ganti estafet). Perenang berada dalam posisi start setelah aba-aba Siap (Take your marks dalam bahasa Inggris) diteriakkan oleh wasit start.[6] Start dinyatakan tidak sah bila perenang meloncat dari balok start sebelum ada aba-aba.[7] Hingga tembakan pistol start dimulai, tubuh perenang harus dalam keadaan diam.
Nomor perlombaan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar rekor dunia renang

Perlombaan renang terdiri dari nomor-nomor perlombaan menurut jarak tempuh, jenis kelamin, dan empat gaya renang (gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan gaya dada). Nomor-nomor renang putra dan putri yang diperlombakan dalam Olimpiade:
Gaya bebas: 50 m, 100 m, 200 m, 400 m, 800 m (putri), 1500 m (putra)
Gaya kupu-kupu: 100 m, 200 m
Gaya punggung: 100 m, 200 m
Gaya dada: 100 m, 200 m.
Gaya ganti perorangan: 200 m dan 400 m
Gaya ganti estafet: 4 x 100 m
Gaya bebas estafet: 4 x 100 m, 4 x 200 m
Marathon 10 km.[8]

Federasi Renang Internasional mengakui rekor dunia putra/putri untuk nomor-nomor renang:
Gaya bebas: 50 m, 100 m, 200 m, 400 m, 800 m, 1500 m
Gaya punggung: 50 m, 100 m, 200 m
Gaya dada: 50 m, 100 m, 200 m
Gaya kupu-kupu: 50 m, 100 m, 200 m
Gaya ganti perorangan: 100 m (hanya lintasan pendek), 200 m, 400 m
Gaya bebas estafet: 4×100 m, 4×200 m
Gaya ganti estafet: 4×100 m.[9]

Pada nomor gaya ganti perorangan, seorang perenang memakai keempat gaya secara bergantian untuk satu putaran, dengan urutan: gaya kupu-kupu, gaya punggung, gaya dada, dan gaya bebas. Pada nomor renang gaya ganti perorangan 100 m, perlombaan diadakan di kolam renang lintasan pendek 25 m.

Pada nomor 4 x 100 m gaya ganti estafet, satu regu diwakili empat orang perenang yang masing-masing berenang 100 m. Perenang pertama memulai dengan renang gaya punggung, dilanjutkan perenang gaya dada, perenang gaya kupu-kupu, dan diakhiri oleh perenang gaya bebas.
Pakaian

Federasi Renang Internasional memiliki daftar merek dan tipe pakaian renang yang disetujui dalam perlombaan renang.[10] Perenang dibolehkan memakai topi renang dan kacamata renang. Perenang berkacamata dapat memilih untuk mengenakan kacamata renang minus, atau mengenakan lensa kontak bersama kacamata renang normal.

Perenang tidak dibolehkan memakai alat atau pakaian renang yang dapat memengaruhi kecepatan, daya apung, atau ketahanan selama berlomba, misalnya sarung tangan berselaput, kaki katak, sirip, dan sebagainya

Terjun Payung


Terjun Payung
Olahraga bukan sekedar rekreasi tetapi juga untuk mengejar prestasi. Dalam mencapai tujuan baik untuk rekreasi atau prestasi, olahraga terdiri dari berbagai macam resiko dan tantangan. Olahraga dengan tantangan yang sangat besar salah satunya adalah Terjun Payung.

Terjun payung adalah aktivitas yang melibatkan terjun dari sebuah pesawat terbang menggunakan parasut yang dapat dibentangkan.

Sejarah awal terjun payung tidak jelas. Diketahui Andre-Jacques Garnerin membuat lompatan parasut dari balon udara panas di tahun 1797. Pertandingan awal dapat dilacak pada tahun 1930-an, dan menjadi olahraga internasional pada tahun 1951.

Olahraga dirgantara selalu memukau masyarakat, sehingga di manapun dan kapanpun, kegiatan itu diselenggarakan, akan selalu menarik perhatian masyarakat. Salah satunya adalah terjun payung.

Selain mengandalkan teknik, olahraga terjun payung memacu adrenalin dan membutuhkan nyali besar. Pasalnya, olahraga ini cukup menantang maut. Olahraga ini memang tontonan yang menarik dan menimbulkan rasa penasaran untuk mencoba. “Bukan hanya nyali, tapi prosedur keselamatan juga harus diperhatikan. Kalau kita melaksanakan aturan yang ada dengan benar, tentu risiko bahaya pun semakin kecil. Pokoknya safety first,” kata Nisfu Chasbullah, Chairman Persatuan Olahraga Dirgantara (Pordiga) Terjun Payung.

Ada tiga jenis karakter terjun payung, yaitu ketepatan mendarat, kerja sama di udara, dan kerja sama antarkanopi. Masing-masing jenis ini mempunyai karakter tingkat kesulitan dan karakter kepuasan tersendiri. “Jika kita terjun di nomor ketepatan mendarat, tentu kepuasan itu datang apabila kita bisa menginjak “titik zero” di titik biru. Ini bukan hal yang mudah mengingat kita harus memperhitungkan saat di udara. Tapi bila kita berhasil melakukannya, itu adalah lompatan yang sempurna,” kata Nisfu.

Begitu pula dengan kerja sama di udara dan antarkanopi. “Kalau kerja sama berjalan dengan baik, tentu merupakan kepuasan. Sebab, itu adalah satu hal yang dilakukan secara bersama-sama. Mereka harus berkonfigurasi dan merencanakan sesuatu itu dari atas awan sampai nanti di darat,” jelasnya.

Melayang-layang di angkasa luas, rasanya seperti berenang dan meinggalkan memori tersendiri. Bercengkerama dengan awan memang memberikan kepuasan lebih. Melihat pemandangan yang terbentang luas dari atas awan begitu memanjakan mata. Melayang seperti burung di antara embusan angin sejuk pegunungan merupakan sensasi tersendiri. Pemandangan daratan begitu memukau bila diliat dari atas. Semua yang ada di daratan hanya titik kecil. Bumi memang tak berujung, dimensi pandangan mata sungguh tak terbatas. Di situlah kita sadar akan kebesaran Tuhan.

Sekilas, olahraga ini lumayan menguras kocek. Pasalnya, sebuah pesawat sangat diperlukan untuk melakukan lompatan. Selain itu, harga peralatan penunjang seperti Canopi, Harness & Container, Payung Cadangan, Altimeter, Googles (kacamata), Jumpshoot, dan Helm mencapai kurang lebih Rp 36 juta. Kendati demikian, Nisfu membantah bahwa terjun payung adalah olahraga yang cukup mahal. Menurutnya, banyak cabang olahraga lain yang jauh lebih mahal ketimbang terjun payung. “Misalnya olahraga yang berhubungan dengan otomotif. Pasti itu memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk perawatan dan hal lainnya. Terjun payung itu olahraga yang relatif tidak mahal. Buktinya ada juga penerjun yang berasal dari kalangan mahasiswa yang notabene mereka mempunyai keterbatasan dana,” ungkapnya.

Sejarah Terjun Payung
Sudah lama manusia ingin melakukan penerjunan, namun tidak dapat dilaksanakan karena belum ada peralatan memadai. Akhirnya, sekitar tahun 1617, Fausto Veranzio menjadi manusia pertama yang melakukan penerjunan dari sebuah menara di Venesia, Italia, dan mendarat dengan selamat menggunakan alat yang mirip parasut. Sedangkan penerjunan dari suatu benda terbang, baru dilaksanakan untuk pertama kalinya sekitar tahun 1797, yaitu oleh Andre Jacques Garrnerin di Paris, Perancis, dari sebuah balon tyudara.

Sekarang terjun payung dilakukan sebagai aktivitas rekreasional dan olahraga kompetitif.

Jenis

Terdapat sejumlah jenis olahraga terjun payung

Salto
Skysurfing
Formasi kanopi
Salto tandem
Gaya terjun bebas
Terbang bebas

Leslie Irvin yang diselamatkan oleh parasut dalam suatu kecelakaan di Inggris, merasa berhutang budi pada perlengkapan itu. Sejak peristiwa yang terjadi pada tahun 1919 itulah akhirnya ia membaktikan seluruh sisa hidupnya untuk mengembangkan dan menyempurnakan teknologi dan sistem parasut.

Marsdya TNI (Pur) Budiarjo, menjadi orang Indonesia pertama yang memanfaatkan parasut, yaitu saat ia bertugas sebagai telegrafis (RTU) di sebuah pesawat pembom Glen Martin, mengalami kerusakan dan terpaksa terjun menggunakan parasut. Penggunaan parasut dalam operasi militer di Indoensia untuk pertama kalinya dilaksanakan dalam suatu Operasi Lintas Udara, yaitu tanggal 17 Oktober 1947 di Kotawaringin, Kalimantan di mana diterjunkan 13 orang anggota Pasukan Gerak Tjepat AURI untuk mempertahankan keutuhan wilayah nasional untuk melawan penjajah Belanda. Namun orang yang pernah terjun payung di Indonesia adalah anggota Angkatan Udara Belanda, Pembantu Letnan A.J. Oonine, di Pangkalan Udara Kalijati, tanggal 30 Desember 1930.

Terjun Payung di Indonesia
Tuti Gantini, putri angkat Kolonel Udara R.H. Wiriadinata, menjadi orang sipil pertama yang terjun payung (statik). Peristiwa bersejarah itu disusul oleh delapan orang wartawan asal Jakarta dan Bandung yang mengikuti pendidikan Sekolah Para Angkatan Udara pada angkatna ke-42 di Margahayu, Bandung. Mereka masih menggunakan payung Ervin buatan Inggris dalam Perang Dunia II dan payung D-1 dengan selubung buatan Sovyet. Mereka dilatih mendarat dengan system tumbling dan push. Dalam perkembangannya, Angaktan darat, Laut, Udara dan Kepolisian melatih para pemuda yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa untuk terjun freefall. Semula mereka menggunakan payung bundar seperti Ervin dan Para Commander, tapi kemudian menggunakan berbagai jenis payung square yang jauh lebih canggih.

Namun terjun payung sebagai olahraga, baru diperkenalkan di Indonesia untuk pertama kalinya tahun 1962 oleh Mladen Milicevic (Mica), seorang yang berkebangsaan Yugoslavia, yang saat itu diperbantukan di Sekolah Para Komando TNI AD di Batujajar. Sejak itu, terjun payung berkembang menjadi sebuah olahraga yang semakin digemari. Perkumpulan terjun payung pertama adalah AVES didirikan di Bandung oleh para mahasiswa ITB bersama wartawan Trisnoyuwono tanggal 29 Juli 1969. Akhirnya olahraga terjun payung pun mulai berkembang pesat. PUncaknya, tanggal 17 Januari 1972, klub-klub terjun payung yang terdapat di Indonesia (62 klub) sepakat untuk bergabung dalam induk organisasi Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).

Cabang olahraga ini tak bisa lepas dari kemajuan teknologi, yang mampu menciptakan peralatan-peralatan baru yang semakin hari semakin canggih. Penggunaan peralatan baru tersebut oleh para atlet memungkinkan dilakukannya manuver-manuver baru di udara yang sulit dilakukan dengan peralatan jenis lama. Bahkan dengan menggunakan peralatan baru tersebut mampu dipecahkan rekor-rekor baru dalam berbagai nomor perlombaan.

Cabang olahraga terjun payung memperlombakan berbagai nomor antara lain ketepatan mandarat, kerja sama di udara, kerja sama antarkanopi dan free style. Nomor-nomor lain adalah formation skydiving dan sku surfing. Jenis parasut yang digunakan dalam perlombaan terjun payung misalnya jenis DC-5 untuk ketepatan mendarat, atau PD-150 untuk kerja sama di udara. (CBN Port

Kejuaraan Dunia Terjun payung di Bali

Indonesia International Skydiving Championship (IISC) 1989 yang diselenggarakan di Bali oleh Persatuan Terjun Payung TNI Angkatan Darat (PTPAD), anggota FASI, pada tanggal 22 Juli – 5 Agustus 1989 diketuai oleh Mayjen TNI Sutopo, Asisten Personel KASAD, sedangkan Ketua Harian Panitia Pelaksana dijabat oleh Kolonel Inf. Luhut B. Panjaitan. Nama IISC-89 untuk membedakan dengan nama kejuaraan dunia terjun payung lainnya yang telah digunakan oleh FAI yaitu World Cup dan World Championship. Dengan masuknya FASI sebagai anggota FAI, maka hal itu sangat memperlancar IISC-89 dalam mengundang negaranegara anggota FAI lainnya. Selain itu, para pakar terjun payung kelas dunia yang duduk dalam kepanitiaan IISC-89 dapat memberikan jaminan bahwa penyelenggaraan kejuaraan dunia terjun payung di Bali ditangani secara profesional dan akan berjalan dengan baik.

Salah seorang pakar terjun payung yang menjadi Koordinator Boogie Jump dan Konsultan Utama IISC-89 ialah B.J. Worth dari Amerika Serikat, seorang pemegang 40 medali internasional dan nasional dalam terjun payung. B.J. Worth juga menjadi stuntman lima film James Bond, di antaranya Moonraker, Octopussy dan A View to Kill menggantikan Roger Moore dan lawannya dalam adegan menegangkan di udara. Penerjunannya yang ke-5009 dilakukan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Direktur Bidang Pengarah Pertandingan dijabat oleh Gene Birmingham yang juga telah berpengalaman terjun di atas 5.000 kali. Pakar terjun payung dari Australia itu, adalah peserta pemecahan rekor dunia dalam kerja sama di udara yang berhasil bergandengan tangan sebanyak 100 orang pada tahun 1987. Pakar terjun payung lainnya ialah Jerry Bird seorang mantan Green Barret Amerika Serikat dengan catatan terjun payung sebanyak 6.300 kali. Jerry yang menjadi Koordinator Kerja Sama di Udara dalam IISC-89 adalah Koordinator Penerjun dalam pemecahan rekor dunia kerja sama di udara sebanyak 144 orang di Perancis pada tahun 1987 yang mungkin sampai saat ini belum ada yang melampauinya. Hakim Pertandingan IISC-89 dijabat oleh Lars Lendelh, seorang yang telah banyak maka asam garamnya terjun payung.

Minat peserta IISC-89 di Bali sangat banyak, bahkan banyak di antara peminat yang mendaftarkan diri langsung membayar. Peserta datang dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belgia, Yugoslavia, Uni Sovyet, Oman, Uni Emirat Arab, RRC, Korea Selatan, dan masih banyak lainnya. Di antara 40 negara anggota FAI yang diundang, 29 negara ikut serta dalam IISC-89 dengan jumlah perserta 615 orang. Nomor pertandingan yang dilombakan ialah ketepatan mendarat (accuracy), kerja sama di udara (relative work) dan kerja sarna antar parasut (canopy relative work). Panitia menyediakan berbagai piala dan hadiah uang dengan total US $. 30.000,- Nama tim sipil yang ikut serta ialah Air Bear (AS), Flash Trash (Inggris), Gecko (AS), Brue Fish (AS), Night in White Satin (AS), Promotheus (Australia), Lobsters Never Flounder (Australia) dan Plaid Jacket (Kanada). Selain itu terdapat sekelompok wisatawan Australia yang sedang berlibur di Bali membentuk tim bernama Bali-Boogie-Beach-Boys (BBBB), tetapi mereka tidak mewakili negaranya. Bintang tim Angkatan Bersenjata ialah US Army Golden Knights yang pernah menjadi juara dunia dua kali, masing-masing di Perancis pada tahun 1987 dan di Australia pada tahun 1988. US Air Force Wings of Blue juga ikut tampil. Pasukan Para Angkatan Darat Inggris menurunkan The Red Devil Parachute Team, sedangkan Angkatan Laut Inggris menampilkan The British Royal Marine Parachute Team. Delapan dari 12 tim Indonesia adalah gabungan dari Angkatan Darat, Laut, Udara dan Kepolisian. Amerika Serikat menurunkan peserta paling banyak yaitu 200 orang, sedangkan Australia sebanyak 100 orang.

IISC-89 di Bali merupakan kejuaraan dunia terjun payung yang belum pernah diadakan sampai pada saat itu. Kejuaraan dunia sejenis yang sebelumnya diselenggarakan di Amerika Serikat diikuti oleh 26 negara dengan sekitar 500 orang peserta, sedangkan IISC-89 di Bali diikuti oleh 29 negara dengan 615 orang peserta. Hal ini tentu saja mengangkat citra FASI di mata FAI. Sebagai anggota baru FAI, FASI telah dapat menunjukkan kemampuannya dalam menyelenggarakan kejuaraan dunia terjun payung yang bersifat kolosal dalam skala internasional.

Pesta Terjun Payung. Di antara 615 orang peserta IISC-89, 122 orang ikut serta dalam pertandingan dan sisanya menjadi peserta boogie jump. Pesta terjun payung juga dimeriahkan dengan terjun tandem yang masih merupakan hal yang baru pada waktu itu. Masyarakat dapat merasakan ikut terjun payung dengan digendong oleh tandem master. Biaya sekali terjun tandem sebesar US$.125. Minat wisatawan domestik dan mancanegara maupun masyarakat Bali sangat besar. Seorang wisatawan wanita dari Jepang ada yang ikut tandem sampai lima kali. Pemilik Bagus Pub seorang penduduk asli Bali yang demikian terpesonanya dengan cabang olah raga dirgantara ini ikut terjun tandem sampai tujuh kali. Bahkan ia menganjurkan semua waitress dan karyawannya ikut merasakan kehebatan “olah raga maut” itu. Made Radipta yang bekerja di salah satu butik pakaian di Legian dan Kamal Kaul, Manager Hotel Oberoi masih ikut dalam terjun. tandem keempat kalinya. Sampai IISC- 89 usai, sekitar 300 orang telah ikut terjun tandem. Namun masih banyak peminat yang belum mendapat kesempatan.

Puncak acara IISC-89 ialah pesta terjun senja di pantai Kuta yang disebut The greatest sunsets jump in the world. Ketika senja hari dan matahari mulai memerah mendekati kaki langit di ufuk barat, enam pesawat muncul dari arah tenggara menyusur pantai Kuta Bali sepanjang empat kilometer yang telah dipenuhi sekitar 60 ribu penduduk Bali dan wisatawan domestik maupun mancanegara. Pesawat C-160 Transall Pelita Air Service yang berada pada urutan paling depan sebagai flight leader diikuti oleh dua pesawat C-130H Hercules Skadron Udara 31 TNI AU sebagai wingman dalam bentuk string formation.

Dua pesawat NC-212-200 Aviocar TNI AD dan sebuah pesawat sejenis milik TNI AL berada dibelakangnya juga dalam bentuk formasi yang sama. Keenam pesawat yang terbang pada ketinggian 12.000 kaki itu mengangkut 435 penerjuh boogie, termasuk delapan tandem master yang membawa penumpangnya dalam NC-212 TNI AL pada urutan paling belakang. Sementara itu dua buah fregat TNI AL di lepas pantai Kuta, empat tim Marinir dengan perahu karet bermotor tempel di pantai Kuta dan dua helikopter NBO-105CB Bolkow milik Dinas Penerbangan Kepolisian di Bandara Ngurah Rai, siaga untuk operasi SAR. Bersamaan waktu dengan bunyi bel berdering panjang di setiap pesawat, maka para penerjun dari berbagai bangsa berhamburan meloncat dari pesawat lewat pintu belakang. Dari darat para peterjun tampak bagaikan kacang kedelai ditumpahkan dari udara. Mereka membuka payung pada ketinggian 3.000 kaki. Lebih dari 400 payung warna-warni memenuhi langit diatas pantai Kuta, pada senja hari. Peristiwa besar dimasa damai itu menjadi kenangan abadi bagi para pelaku maupun bagi mereka yang menyaksikannya.

Sebuah harian di Jakarta menulis, inilah boogie jump terbesar di dunia hingga saat ini. la telah berhasil menghimpun penerjun berbagai bangsa dalam persaudaraan dirgantara. Dalam lingkaran-lingkaran kecil, mereka bergandengan tangan, menggemakan lagu Auld Lang Syne. Ketika puluhan lingkaran itu mencair, dan setiap penerjun saling berpeluk, keharuan menitik di pantai Kuta. Entah kapan lagi mereka bisa menerangi angkasa pantai yang tersohor indah dikala senja itu.

Dana IISC-89 Rp.1,5 milyar. IISC-89 di Bali menjadi catatan penting bagi kebangkitan olahraga terjun payung di Tanah Air. Catatan lain yang tidak kalah pentingnya ialah panitia bukan saja berhasil menangani kejuaraan itu secara profesional, tetapi juga mampu menutup kebutuhan dana yang besar untuk kejuaraan terjun payung yang bersifat kolosal dalam skala internasional. Hal itu tidak lepas dari perencanaan yang baik. Kolonel Luhut B. Panjaitan, Ketua Harian Panitia Pelaksana mempunyai pemikiran yang sedehana dalam mengatasi kebutuhan dana. la berkata, “Mereka yang mampu mencari dana yang besar ialah para pengusaha”. Dengan demikian Panitia Bidang Dana diserahkan kepada Himpunan Pengusaha Muda, langkah itu tidak sia-sia. Summa/Astra Group memberi sponsor 500 juta. Bimantara beberapa ratus juta. Ir. Herman Arif Kusumo, seorang pengusaha muda anggota perkumpulan Terjun Payung Aves di Bandung juga memberikan sumbangan yang cukup besar. Kebutuhan dana sebesar Rp. 700 juta dari sponsor/iklan telah dilampaui. Dana sebesar Rp. 800 juta diperoleh dari peserta mancanegara yang tiap peserta dipungut US$. 1 .500 untuk airfare, hotel selama 15 hari termasuk makan pagi dan makan siang, angkutan ke tempat pertandingan dan 25 kali terjun payung. Ketika kebutuhan dana membengkak menjadi Rp. 2 milyar, panitia mampu mengatasinya. Bahkan panitia masih memberikan discount untuk sekali terjun (diluar 25 kali terjun yang telah menjadi hak dari peserta) seharga US$. 10. Seharusnya sekali terjun dari ketinggian 12.000 kaki memerlukan biaya US. 25. Secara keseluruhan panitia telah berjasil menghimpun dana dari para pengusaha dan berhasil menjual IISC-89 sebagai business commodity.

Prestasi Indonesia. Ketika IISC-89 belum dimulai, banyak kalangan yang menilai bahwa Kejuaraan Dunia Terjun Payung di Bali terlalu besar jika dibanding dengan prestasi penerjun payung Indonesia yang masih dalam lingkup Asia Tenggara. Ternyata kejuaraan dunia berskala kolosal itu sangat dibutuhkan oleh penerjun payung nasional maupun para pembinanya untuk memberikan shock theraphy yang dapat menggugah aktivitas penyelenggaraan kompetisi dan meningkatkan prestasi. Inilah tantangan yang dihadapi oleh Pusat Terjun Payung FASI.

Upaya pemecahan rekor nasional kerja sama diudara dilakukan pada tanggal 4 Agustus diatas Bandara Ngurah Rai. Sebanyak 23 penerjun berhasil melakukan kerja sama diudara. Tetapi Ralph Presgrove, juru kamera video Australia, yang terjun bersama mereka untuk membuat dokumentasi, gagal merekamnya. Upaya memecahkan record dunia kerja sama di udara sebanyak 144 orang tidak dapat dilakukan dalam IISC-89 di Bali. Menurut Jerry Bird hal itu disebabkan jumlah penerjun di Bali hanya 80 orang. Kualifikasi di atas 2000 kaki sangat diperlukan dalam pemecahan rekor dunia. Selain itu penerjunan dari ketinggian dari 18.000 kaki dengan membuka ramp door memerlukan peralatan pemasok oksigen bagi penerjun dan awak pesawat. Namun demikian dalam suatu uji coba yang dipimpin oleh Jerry Bird, dalam sekali coba para peserta Internasional di Bali berhasil melakukan kerjasama di udara sebanyak 48 orang. Upaya memecahkan rekor dunia dalam kerjasama di Bali tidak diteruskan. Jerry Bird menegaskan bahwa Bali cocok sebagai tempat memecahkan rekor dunia dalam kerjasama di udara.

Dalam mempersiapkan tim terjun payung untuk IISC-89, Pusat Terjun Payung FASI menyelenggarakan pelatihan di Lanud Kalijati (sekarang Lanud Suryadarma), Subang dan Pondok Cabe, Jakarta. Tim kerjasama antar parasut berlatih di Perris Valley, California, Amerika Serikat. Hasilnya Indonesia kebagian satu gelar yaitu juara ke-3 dalam nomor kerjasama antar parasut. Juara ke-1 dipegang oleh Pleid Jackets dari Kanada dan juara ke-2 di tangan Thailand. Dalam nomor ketepatan mendarat perorangan juara-1 dan juara-2 masing-masing dipegang oleh Letnan Chaiwat Chai dan Letnan Chancai dari Angkatan Bersenjata Thailand, sedangkan juara ke-3 dipegang oleh He Jihui dari RRC. Diantara 6 tim yang diturunkan Indonesia dalam nomor ini, tim nasional menempati urutan 8 dan tim ABRI-1 pada urutan 9. Dalam nomor kerjasama di udara, juara ke-1 ialah Flash Trash (Inggris), juara ke-2 Blue Fish (AS) dan juara ke-3 Golden Knights (AS). Gen Birmingham pakar terjun payung Australia yang juga Mayor Jenderal pensiun mengatakan bahwa kemampuan penerjun Indonesia dan Thailand seimbang. Seharusnya Indonesia meniru Thailand, meskipun tidak ada kompetisi tetap berlatih ketat. Menurut tim manager Thailand Letkol. Boom Nyarit Ngampung timnya berlatih tiga kali seminggu pagi dan sore hari. Pada tahun 1970-an TNI AU pernah memberi jatah 15 jam terbang pesawat Dakota dalam satu bulan untuk pembinaan FASI.

Walaupun Indonesia hanya kebagian satu gelar dalam IISC-89 di Bali, Indonesia masih termasuk dalam 10 besar. Prestasi itu sangat jauh dari memuaskan, tetapi cukup baik untuk bahan introspeksi dan konsolidasi bagi Pusat Terjun Payung FASI.

Piala Dunia Terjun Payung 1991 di Lombok

Dua tahun setelah Kejuaraan Dunia Terjun Payung 1979 di Bali, FASI menyelenggarakan Piala Dunia Terjun Payung 1991 di Lombok yang menjadi salah satu agenda FAI. Dalam agenda FAI, Piala Dunia Terjun Payung 1991 di Lombok disebut World Cup of Championships in Classical Parachuting Indonesia 1991, disingkat menjadi World Cup Parachuting Indonesia 1991 (WCPI 1991). FAI hanya menggunakan dua nama kejuaraan dalam agendanya, yaitu World Cup dan World Championship. Namun Kejuaraan Dunia Terjun Payung 1989 di Bali belum sempat masuk dalam agenda FAI, dan untuk membedakan dengan World Cup dan World Championship, maka kejuaraan terjun payung di Bali 1989 tersebut menggunakan nama Indonesia International Skydiving Championship 1989.

Tema WCPI 1991 adalah “Melalui Penyelenggaraan Piala Ounia Terjun Payung 1991, FASI Menggalang Kekuatan Dirgantara Nasional Menyongsong Pembangunan Nasional Jangka Panjang”. WCPI 1991 bertujuan meningkatkan pembinaan olahraga terjung payung dan menjadi ajang bagi FASI dalam menunjukkan kepada masyarakat tentang prestasi yang telah dicapai. Diantara sasaran yang ingin diraih adalah memenuhi komitmen FASI kepada dunia untuk menyelenggarakan Piala Dunia Terjun Payung Indonesia 1991 dengan sukses. Selain itu WCPI 1991 juga untuk meningkatkan kemampuan FASI dalam mengelola olahraga dirgantara sebagai pertunjukan olahraga (spectator sport), yaitu suatu sarana promosi usaha yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Pertunjukan olahraga terjun payung dalam IISC 1989 di Bali dan WCPI 1991 di Lombok, berupa boogie jump (yang disebut sebagai “The Greatest Sunsets Jumps in the World’) dan tandem jump yang memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keterkaitan pertunjukan olahraga terjun payung dengan bidang promosi itulah yang mampu membiayai IISC 1989 di Bali dan WCPI1991 di Lombok yang membutuhkan dana cukup besar.

Kompetisi berlangsung di Lanud Rembiga, Mataram, sedangkan The Greatest Sun Sets Jumps in the World dilakukan di kawasan wisata pantai Senggigi. Ketua panitia WCPI-91 dijabat oleh Marsma TNI. Rilo Pambudi, Pangkoopau I. PT. Fortune Indonesia bertindak sebagai mitra kerja dan Sampoerna menjadi salah satu sponsor. Organizer terjun payung kelas dunia, yaitu B.J. Worth, Gene Birmingham dan Jerry Bird duduk lagi dalam kepanitian. Dalam IISC-89 di Bali ketiga pakar terjun payung itu telah memberi rekomendasi bahwa Indonesia patut diperhitungkan dalam kancah terjun payung internasional.

WCPI-91 dapat menepis kekhawatiran masyarakat olahraga maupun masyarakat awam yang sudah mulai tertarik terhadap olahraga terjun payung bahwa perkumpulan terjun payung dibawah pembinaan FASI hanya dapat menyelenggarakan kejuaraan dunia terjun payung satu kali. Usai kejuaraan dunia terjun payung di Bali, usai sudah persoalan. Tanpa ada kelanjutannya.

WCPI-91 di Lombok dapat memenuhi keinginan para peserta mancanegara dalam IISC-89 di Bali yang menyatakan bahwa mereka akan datang lagi jika FASI menyelenggarakan event sejenis. Bahkan banyak diantara mereka bersedia membayar lebih tinggi, karena biaya US$.1.500 untuk airfare, hotel termasuk makan pagi dan makan siang selama 15 hari, angkutan ke tempat kompetisi dan 25 kali terjun terhitung sangat murah. Ternyata mereka menepati janji. Minat peserta WCPI-1991 cukup banyak. Meskipun WCPI-1991 berlangsung di Lombok, sebagian peserta menginap di Kuta, Bali. Pada pagi hari para peserta terbang dengan pesawat Hercules menuju Lanud Rembiga. Mereka melakukan mess jump diatas pangkalan udara. Usai mengikuti kompetisi, mereka kembali ke Lanud Ngurah Rai dan langsung melakukan boogie jump diatas pantai Kuta. WCPI-1991 mempunyai dampak positif bagi dunia pariwisata. Bahkan banyak penerjun yang langsung mendarat di halaman hotel di kawasan pantai Kuta yang menjadi tempat mereka menginap.

Banyak kalangan pemerintah berpendapat bahwa kejuaraan dunia terjun payung selanjutnya dilakukan di daerah lain untuk memasyarakatkan olah raga terjun payung dan meningkatkan pariwisata. Masalahnya adalah apakah fasilitas di daerah dapat memadai, misalnya apakah tersedia kamar hotel yang mampu menampung 600 wisata mancanegara dalam waktu yang bersamaan. Dua daerah yang banyak disebut ialah Manado dan Batam.

Berbagai perlombaan cabang olahraga terjun payung yang pernah diselenggarakan baik tingkat nasional maupun internasional, meliputi:

Kejuaraan Terjun Payung Dunia XIII di Itali tahun 1976. Diikuti para peserta dari Amerika, Uni Sovyet, Jerman Timur, Polandia, Perancis, Bulgaria, Cekoslovakia, Kanada, Hungaria, Inggris, Finlandia, Swiss, Italia, Jerman Barat, Australia, Austria, Norwegia, Denmark, Afrika Selatan, Turki, Meksiko, Indonesia, Jepang, Belanda, Peru, Swedia, Panama, Chili.

Kejuaraan Terjun Payung Asean I di Bandung tanggal 3 – 16 Juli 1976, diikuti oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Philipina.

HUT KOPASSUS ke-45 tanggal 17 April 1977. Berhasil dilakukan pemecahan rekor Kerjasama Antar Parasut sebanyak 17 peterjun.

PON IX 24 Juli – 2 Agustus 1977 di Jakarta dengan peserta Sumut, DKI, DIY, Jabar, Jatim.

Kejuaraan Terjun Payung Asean II di Quezon City, Philipina tanggal13 Maret – 8 April 1979. Peserta: Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Philipina.

Kejuaraan Terjun Payung Asean III di Seletar, Singapura tanggal 1 – 10 Pebruari 1979. Peserta: Indonesia, Singapura, Muangthai, Philipina.

Kejuaraan Terjun Payung Internasional di Ipoh, Malaysia tanggal 28 Juni – 5 Juli 1980. Peserta: Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Philipina, Australia, Taiwan dan Selandia.

PON X 19-30 Desember 1981 di Bogor. Peserta: Sumut, DKI, DIY, Jabar, Jatim, Aceh, Jateng, Sulut.

Kejuaraan Terjun Payung Asean IV di Malaca, Malaysia tanggal 4 – 14 Juni 1981. Peserta : Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Philipina, Brunei dan Taiwan.

Kejuaraan Antar Terjun Payung Perguruan Tinggi se Indonesia di Bandung tanggal 1 – 4 Agustus 1982. Peserta: 12 Perguruan Tinggi (Univ. Mahadira, UGM, UNS, Unbra, UKI, UPN, ITB, Unpad, Univ. Sam Ratulangi, Usakti, PTIK)

Kejuaraan Terjun Payung Asean V di Lephuri, Muangthai tanggal 30 Maret 10 April 1982. Peserta: Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Philipina, Brunei, Cina dan Korea Selatan.

Kejuaraan Terjun Payung Malaysia Ter buka III di Malaca, Malaysia tanggal 11 – 21 Desember 1982.Peserta: Indone sia, Malaysia, Brunei, Singapura.

Kejuaraan Terjun Payung Malaysia Terbuka III di Malaca, Malaysia tanggal 30 Mei – 3 Juni 1983. Peserta: Indonesia, Malaysia, Hongkong, dan Singapura.

Kejuaraan Terjun Payung Asean VI di Bogor tanggal 5 – 12 Nopember 1983. Peserta: Indonesia, Malaysia, Brunei, Australia dan Internasional.

PON XI 1985. Peserta: DKI, DIY, Jabar, Jatim, Aceh, Jateng, Sulut, Sumsel, Kalbar, Sulsel.

Kejuaraan Terjun Payung Malaysia Terbuka di Malaca, Malaysia tanggal 20 28 September 1987. Peserta: Indonesia, Malaysia, Brunei, Muangthai, dan Singapura.

PON XII 1989. Peserta: DKI, DIY, Jabar, Jatim, Aceh, Jateng, Sulut, Sumsel, Kalbar, Sulsel.

Kejuaraan Dunia Terjun Payung 1991.

Elevation New Year Bali Boogie 2003, tanggal 28 Desember 2002 – 1 Januari 2003.

                            Dari berbagai sumber : Audi Yudhasmara, KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher